Untuk industri televisi, apa keuntungan ekonomi dari reality show berseri?
Televisi sebagai media dari budaya popular menghasilkan berbagai macam program yang dapat disaksikan oleh semua kalangan di dunia pada umumnya. Program-program tersebut sangat variatif, dimulai dari acara yang edukatif seperti berita, talk show tentang politik, keagamaan, hingga yang menghibur seperti film, sinetron maupun olah raga. Program-program tersebut selalu berkembang sesuai kebutuhan zamannya sehingga banyak bermunculan tayangan-tayangan baru yang membuat acara televisi semakin beragam. Salah satu program tersebut adalah Reality show yang memotret atau mendokumentasikan kehidupan seseorang atau persitiwa yang tidak direkayasa sama sekali. Siahaan (2004) mendefenisikan reality show tersebut sebagai suatu jenis program televisi yang mendokumentasikan rekayasa realitas tanpa skenario dan artis pendukung.
Televisi sebagai media dari budaya popular menghasilkan berbagai macam program yang dapat disaksikan oleh semua kalangan di dunia pada umumnya. Program-program tersebut sangat variatif, dimulai dari acara yang edukatif seperti berita, talk show tentang politik, keagamaan, hingga yang menghibur seperti film, sinetron maupun olah raga. Program-program tersebut selalu berkembang sesuai kebutuhan zamannya sehingga banyak bermunculan tayangan-tayangan baru yang membuat acara televisi semakin beragam. Salah satu program tersebut adalah Reality show yang memotret atau mendokumentasikan kehidupan seseorang atau persitiwa yang tidak direkayasa sama sekali. Siahaan (2004) mendefenisikan reality show tersebut sebagai suatu jenis program televisi yang mendokumentasikan rekayasa realitas tanpa skenario dan artis pendukung.
Di Amerika, program tersebut mulai dikenal dengan kemunculan Nightwatch di tahun 1954 yang merekam bagaimana polisi kota Culver, California , dalam mengerjakan tugasnya (Victoria : 2007). Di Indonesia, acara sejenis mulai muncul pada akhir tahun 2000an. Umumnya acara ini bertujuan untuk memberikan hiburan alternatif dengan menghadirkan sebuah gambaran realitas yang didokumentasikan tanpa naskah. Awalnya acara tersebut memperlihatkan proses pembangunan kembali rumah orang-orang yang berasal dari kalangan ekonomi rendah, pembangunan tempat ibadah, kehidupan orang-orang urban dan aktifitas-aktifitas orang-orang yang berpotensi memberikan inspirasi bagi penonton program tersebut. Akan tetapi dalam perkembangannya, banyak jenis reality show baru yang bermunculan dengan tema-tema yang tidak inspiratif seperti hubungan antar remaja dengan lawan jenis dan gambaran kehidupan sehari-hari seorang artis terkenal yang tujuan utamanya hanya menambah populeritas artis yang bersangkutan. Bahkan reality show saat ini telah membuka ruang-ruang yang dianggap tabu dengan alasan menghibur publik. Hal tersebut diduga tidak dapat dilepaskan oleh peran kapitalis sebagai pemilik modal yang memungkinkan kemunculan acara tersebut di media massa.
Kemunculan reality show sebagai media komunikasi publik diduga berpotensi mereduksi nilai-nilai moral dan mengikis identitas masyarakat Indonesia. Program tersebut juga dianggap mampu mengubah realitas publik dan menggantinya dengan realitas yang ada dalam reality show tersebut. Sunardi dalam Strinati (2007) mengatakan bahwa dewasa ini kita tidak lagi bisa bicara fungsi media untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan manusia, namun media telah mengatur perasaan, gagasan dan cara pandang manusia. Untuk itu tulisan ini akan dianalisa seberapa jauh reality show sebagai representasi media di Indonesia mengubah dan mengkonstruksi gagasan dan identitas publik serta hubungannya dengan peran kapitalisme media massa yang menjadikan publik sebagai komoditi yang menguntungkan.
Terdapat banyak sekali jenis dan penggolongan reality show di pertelevisian Indonesia. Tulisan ini mengambil dua buah sampel reality show yang saat ini banyak menarik perhatian publik, yaitu Termehek-mehek yang ditayangkan di Trans TV danOrang Ketiga yang ditayangkan di stasuin TV yang sama.
Berdasarkan sebuah polling yang dilakukan di internet, ada dua reality show yang cukup banyak mendapat perhatian publik yaitu Termehek-mehek dan Orang Ketigayang ditayangkan di Trans TV. Kedua program tersebut hampir memiliki konsep yang sama, yaitu memberikan solusi bagi peserta yang memiliki masalah tertentu seperti hubungan dengan lawan jenis, pertemanan dan keluarga. Masalah tersebut dipecahkan dengan menggunakan cara yang telah disusun oleh program acara tersebut seperti menyelidiki seorang yang menjadi target penyelidikan selama berhari-hari dan secara rahasia. Penyelidikan tersebut biasanya dilakukan secara tidak terorganisir karena pihak penyelanggara acara tidak dapat memprediksi setiap tindakan objek penelitian mereka. Terkadang mereka tidak memperoleh hasil apa-apa dan gagal membuktikan asumsi-asumsi yang diajukan klien terhadap target penyelidikan.
Ada hubungan produksi-konsumsi yang saling terkait antara peserta, pihak penyelenggara program dan penonton (publik). Permasalahan peserta diproduksi dan diolah oleh pihak penyelenggara acara, lalu dikemas semenarik mungkin sehingga memenuhi selera publik yang mengkonsumsi acara tersebut. Kuantitas permasalahan yang dihadapi oleh peserta dan konflik yang terjadi ketika masalah tersebut dipecahkan menciptakan sebuah tegangan yang dimanfaatkan oleh pihak penyelenggara untuk mengemas acara tersebut terlihat menarik di telivisi. Ketegangan-ketegangan tersebut menjadi alat untuk menarik perhatian publik. Semakin tinggi konflik atau tegangan yang dimunculkan, akan berdampak semakin tinggi pula daya konsumsi publik yang mengakibatkan semakin tinggi pula income yang diperoleh oleh pihak penyelenggara acara tersebut.
Program reality show pertama yang menarik perhatian adalah Termehek-mehek. Acara ini mulai muncul di pertelivisian Indonesia di awal tahun 2008. Acara ini langsung mendapat perhatian dari publik karena acara ini menayangkan dengan berani sebuah gambaran realita kehidupan seseorang yang terkadang lucu atau menyedihkan.
Konsep program ini yaitu memecahkan masalah klien yang dianggap menarik bagi kedua belah pihak. Masalah tersebut biasanya seputar masalah pencarian anggota keluarga yang hilang, menyingkap hubungan seseorang dengan lawan jenis yang merugikan klien, atau menyelidiki status seseorang yang berhubungan dengan klien tersebut. Masalah ini dipecahkan secra spekulatif dengan sistem penyelidikan rahasia selama berhari-hari. Penyelidikan ini dilakukan oleh klien dan dibantu oleh beberapa orang kru yang menggunakan kamera tersembunyi. Untuk memudahkan penyelidikan, tim ini memanfaatkan tekhnologi komunikasi untuk menjaga interaksi antara klien dengan target penyelidikan. Interaksi tersebut dilakukan secara kontinuitas agar para kru tidak kehilangan jejak target penyelidikan tersbut. Interaksi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton karena penonton secara langsung juga bisa mengetahui apa yang dibicarakan oleh kedua belah pihak.
Penyelidikan terhadap target dilakukan dengan cara mengikuti kemana saja target tersebut pergi secara rahasia. Para kru mengamati setiap tingkah laku yang dilakukan target dengan merekamnya secara langsung dengan kamera tersembunyi. Untuk memudahkan penyelidikan, misalnya menyelidiki status seseorang, para kru menggali informasi kepada semua orang yang memiliki hubungan dengan si target penyelidikan. Hal itu dilakukan juga tanpa sepengetahuan target acara tersebut.
Klimaks acara ini yaitu dengan menyingkap rahasia target penyelidikan yang sangat dibutuhkan oleh klien tersebut. Klimaks ini menjadi inti dari semua penyelidikaan program ini. Klimaks acara ini memberikan terkadang membenarkan spekulasi klien terhadap target, namun terkadang tidak membuktikan apa-apa. Hal tersebut memberikan efek emosional terhadap klien seperti bahagia ataupun sebaliknya. Hal tersebut juga terjadi pada reality shows Orang Ketiga yang lebih menspesifikkan tema mereka, yaitu mengenai hubungan dengan lawan jenis. Klimaks acara ini juga hampir sama dengan program Termehek-mehek, yaitu terkadang membuktikan bahwa target memiliki hubungan lain selain dengan klien, dengan alasan inilah program ini diberi nama Orang Ketiga.
Dengan menganalisa kedua reality show diatas, dapat dipahami bahwa motivasi sesorang untuk mengikuti program reality show ini adalah untuk memecahkan masalah yang solusinya hanya dimilki oleh pihak penyelenggara reality show tersebut. Hal tersebut memperlihatkan bahwa secara tidak langsung reality show dengan politik media massa telah menghegemony pihak yang menjadi kliennya, karena klien yang bersangkutan merasa telah menemukan jawaban yang tepat bagi masalahnya ketika ia direkrut untuk menjadi peserta acara tersebut. Dengan menawarkan solusi-solusi yang menarik bagi publik atau pesrta yang memliki permasalahan, reality show secara tidak langsung telah menanamkan ideologinya kepada klien yang bersangkutan sehingga ia meyakini bahwa dengan mengikuti program tersebut adalah solusi yang paling efektif. Hal ini memperlihatkan adanya kesadaran semu (false consciousness) yang dialami oleh peserta tersebut. Solusi spekulatif yang ditawarkan oleh pihak penyelenggara mengkonstruksi pola pikir klien tersebut yang akhirnya membuat ia membenarkan solusi yang ditawarkan. Kesadaran semu tersebut muncul karena klien tersebut hanya menyadari bahwa solusi tersebut adalah solusi yang tepat karena memiliki fakta-fakta empiris dan didukung oleh beberapa orang kru yang berpengelaman, tanpa mempertimbangkan timbulnya masalah baru bagi dirinya sendiri seperti terbukanya aib dirinya dan keluarganya atau merusak hubungan sosialnya dengan orang lain. Kesadaran semu itu juga dipengaruhi oleh reward yang diberikan kepadanya atas kontribusinya dalam mensukseskan program televisi tersebut yang beupa sejumlah uang atau souvenir dari sponsor.
Hal diatas tidak terlepas dari politik kapitalisme media massa. Media massa memilki berbagai macam cara untuk menarik perhatian publik agar terus mengkonsumsi produk-produk yang diciptakan. Media massa memiliki strategi-strategi yang mampu mengubah gagasan-gagasan seseorang sehinnga memudahkannya untuk mengontrol tingkah laku orang lain. Lyotard dalam Piliang (1998) mengatakan bahwa para kapitalis seperti mucikari yang menggunakan segala bentuk trik untuk mengkomersialkan setiap rangsangan libido demi memperoleh nilai tambah. Mereka mengeksloitasi kegairahan secara tanpa batas. Dalam konteks reality show, para produsen program telivisi mengekploitasi permasalahan yang dialami oleh klien untuk memperoleh profit yang besar. Mereka memancing permasalahan dan mengemasnya agar menarik dan mendapat keuntungan finansial. Kuantitas permasalahan yang dialami menjadi salah satu faktor yang menentukan kuantitas keuntungan yang akan didapatkan oleh kapitalis.
Ketika tema atau permasalahan yang diusung oleh reality show menarik, akan berdatangan para sponsor yang mengkomersialisasikan produk-produk mereka melalui iklan yang memberi keuntungan kepada pihak penyelenggara reality showtersebut. Dampak positif luar biasa dirasakan oleh media yang menayangkan reality show adalah peningkatan rating dan share. Rating adalah persentase penonton acara itu dari keseluruhan pemirsa yang menonton televisi. Share adalah persentase penonton acara itu dari keseluruhan pemirsa yang menonton televisi saat itu. Peningkatan ratingdan share meningkatkan pemasang iklan dalam tayanagan televisi tersebut, sehingga pendapatan stasiun televisi semakin bertambah. Sebuah riset kuantitatif yang dilakukan di tahun 2005 oleh Halida mencatat bahwa contoh spot iklan sebuah acara reality showdiantre oleh para produsen, tiap spot (30 detik) dihargai Rp 18 juta. Pada sebuah acara kontes bakat yang berdurasi tiga jam, sepertiga diisi dengan iklan dengan pendapatan sebesar Rp 3,24 milliar. Belum lagi keuntungan yang diperoleh dari sms premium (Rp 2000/sms) yang diperkirakan rata-rata mencapai Rp 10 milliar untuk setiap episode. Dari hasil riset ini dapat dipahami bahwa tujuan utama dari pembuatan program reality show ini untuk meraih untung sebesar-besarnya bagi kapitalis itu sendiri. Keuntungan tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan masalah-masalah yang dialami klien dan mengemasnya menjadi acara yang menarik bagi publik dan menjadi solusi sangat efektif bagi yang klien yang bersangkutan.
Permasalahannya adalah, klien yang bersangkutan—karena dipengaruhi oleh kesadaaran semu tersebut, selalu tidak menyadari bahwa mereka telah dimanfaatkan oleh produser acara reality show tersebut. Para klien tidak memahami bahwa mereka menjadi komoditi yang dieksploitasi oleh kapitalis hanya untuk meraih keuntungan finansial bagi mereka saja. Sistem yang saling menguntungkan antara produser dengan klien dapat dikatakan sebuah kamuflase saja, karena pada kenyataannya hanya produser program ini saja yang diuntungkan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat klimaks acara reality show tersebut. Klimaks acara ini umumnya memberikan efek yang merugikan kepada klien secara emosional. Klien yang tidak siap dengan kondisi yang mengejutkan di klimaks acara ini membuat yang bersangkutan tidak bisa mengendalikan diri. Akibatnya, klien tersebut justru mendapatkan masalah-masalah baru yang tidak diduga sebelumnya seperti terbukanya aib dirinya dan keluarganya, perkelahian, merusak hubungannya dengan target yang bersangkutan atau malah mendapatkan permasalahan psikis karena ia tidak dipersiapkan oleh penyelenggara acara untuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga. Kemungkinan yang tidak terduga itu tidak direspon baik oleh penyelenggara/kru dengan ikut menyelesaikannya, akan tetapi tetap merekam peristiwa tersebut dan mengkomersialisasikannya untuk menarik perhatian publik. Dalam kasus ini jelas yang dirugikan adalah klien yang telah mengikuti program tersebut. Hal inilah yang dimaksud dengan peran klien bukan sebagai pengguna jasa reality show, melainkan sebagai komoditi yang diekploitasi olehreality show itu sendiri.
Reality shows tersebut juga mengikis budaya timur masyarakat Indonesia . Bagaimanapun, program ini adalah adaptasi dari program serupa yang berkembang di dunia barat. Dengan mengadaptasi program ini berarti Indonesia secara tidak langsung mengadaptasi pola budaya barat yang berakar dari konsumsi media massa. Victoria (2007) mengatakan bahwa dalam pertelevisian, produk budaya secara luas dideteminasi oleh budaya yang sedang berlansung. Dengan demikian, reality showberpotensi mendeterminasi budaya-budaya masyarakat Indonesia. Apapun yang ditampilkan oleh media massa akan memberikan efek terhadap publik yang mengkonsumsinya.
Perkembangan media massa di era post-modern ini juga berpotensi mereduksi nilai-nilai budaya yang telah mapan serta nilai-nilai moral. Sunardi dalam Strinati (2007) mengatakan bahwa media dan konsumsi menggeser ikatan sosial yang semula mementingkan aspek moral dan ikatan estetik. Dengan kehadiran reality showseperti Termehek-mehek dan Orang Ketiga dapat mengikis aspek moral yang dimilki oleh budaya timur yang disebabkan oleh ideology kapitalsi tersebut. Akibatnya, masyarakat seperti mengalami krisi identitas.
Dengan menganalisa kedua reality show di Indonesia, dapat dilihat ada dua buah bentuk krisis identitas. Pertama, acara reality shows tersebut dapat dikategorikan ke dalam krisis identitas yang dialami oleh media televisi Indonesia. Gagasan untuk mengadaptasi program reality show ke pertelevisian Indonesia mengindikasikan bahwa pertelivisian Indonesia belum mapan. Pertelevisian Indonesia tidak mampu mempertahankan identitas budaya timur yang sangat jauh berbeda dengan budaya barat. Globalisasi memang merambah ranah-ranah budaya Indonesia di zamaan pos modern, namun gagasan untuk mengadaptasi reality show ke dalam pertelevisian Indonesia memperlihatkan budaya Indonesia kehilangan pegangan. Hal tersebut merepresentasikan hilangnya identitas budaya timur yuang melekat di Indonesia yang juga dimotivasi oleh keuntungan finansial yang melimpah.
Bentuk krisis identitas kedua dialami oleh klien reality show tersebut. Dengan mengikuti program ini menandakan bahwa klien yang bersangkutan tidak mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa bantuan para kru program ini. Krisis identitas tersebut juga dapat dilihat dari tidak adanya awareness dari klien bahwa ia telah dimanfaatkan oleh para kapitalis. Ia tidak menyadari bahwa ia telah menjadi komoditi yang menguntungkan secara finansial untuk kapitalis. Dengan menjadi klien reality show,klien menunjukkan identitas dirinya yang tidak punya resistensi terhadap bentuk-bentuk eksploitasi dan hegemony. Kesemua itu merepresentasikan bahwa identitas masyarakat Indonesia yang mengikuti program reality show menjadi pertanyaan besar.
Efek kehadiran reality show ini membuat masyarakat khususnya klien program ini mengalami kesadaran semu. Klien merasa telah diuntungkan dengan mengikuti program ini, namun sebaliknya dialah yang dimanfaatkan untuk meraih keuntungan bagi kapitalis. Kesadaran semu inilah yang membuat acara reality show ini seperti sebuah pertunjukan krisis identitas masyarakat Indonesia .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar